Info Terkini :

Objek Wisata di Sulawesi Tenggara

Kamis, 26 April 2012

Sulawesi Tenggara adalah provinsi dengan ibukotanya Kendari
Obyek Wisata Sulawesi Tenggara yang terpopuler di Sulawesi Tenggara adalah Obyek Wisata Sejarah “Benteng Buton” selain Obyek Wisata Taman Nasinal Wakatobi.
Benteng ini boleh dikatakan adalah benteng yang terbesar di Dunia (yang mengelilingi satu perbukitan pulau Buton) setelah Gread Wall/ Tembok Cina, Mengelilingi benteng ini tidak cukup waktu seharian bila berjalan kaki. Memasuki pintu utama kawasan ini di sebelah kiri dijumpai prasasti yang bertuliskan silsila raja-raja Kerajaan Butun, disebelah kanan berdiri Mesjid Tua Buton yang sangat khas dan unik, dan terlihat pula Batu bertuah, Batu yang mempunyai kolam kecil yang tidak pernah kering, Makam para raja2, Balai Pertemuan para raja-raja, Ruang pelantikan Raja, dan lain peninggalan sejarah kerajaan Buton seperti Meriam/ Basoka Tua. Menuju kawasan ini dari kota pusat keramaian dengan mobil kira-kira 15-20 menit dengan jalan sedikit mendaki kearah perbukitan.
Pulau Buton dapat dicapai dengan pesawat udara atau Kapal Penumpang dari Makassar (Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan), atau dengan Kapal Motor dari Kota Kendari , Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.
Anda penasaran ? Kami Tunggu

Obyek Wisata Sulawesi Tenggara lainnya :

    Pantai Lakeba
    Pantai Nirwana
    Benteng Kraton sultan Buton
    Mesjid Buton
    Permandian Alam Bungi
    Wisata Kota Bau Bau Buton
    Istana Malige
    Taman Nasional Wakatobi
    Pulau Liwu Tongkidi
    Hutan Raya Marhum
    Air Terjun Moramo
    Upacara Pasuo
    Tarian Rakyat Malulo
    Aduan Kuda Muna
    Kerajinan Perak Kendari
    Kerajinan Kayu Jati Gembol
    Kerajinan Tenun Buton
    Layang-layang Kaghati

Tarian Malulo

Tarian Malulo atau Lulo (dari Bahasa Tolaki: Molulo), merupakan salah satu jenis kesenian tari tradisional dari daerah Sulawesi Tenggara, Indonesia. Di Kendari (Sulawesi Tenggara – Indonesia) . Suku Tolaki sebagai salah satu suku yang berada di daerah ini memiliki beberapa tarian tradisional , salah satu tarian tradisional yang masih sering dilaksanakan hingga saat ini adalah tarian persahabatan yang disebut tarian Lulo.
Pada zaman dulu, tarian ini dilakukan pada upacara-upacara adat seperti : pernikahan, pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi oleh alat musik pukul yaitu gong. Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja, dan anak-anak yang saling berpegangan tangan, menari mengikuti irama gong sambil membentuk sebuah lingkaran. Kalau cukup ramai, lingkaran yang terbentuk bisa sampai 10 lingkaran. Gong yang digunakan biasanya terdiri dari 2 macam yang berbeda ukuran dan jenis suara.
Filosofi tarian “lulo” adalah persahabatan, yang biasa ditujukan kepada muda-mudi suku Tolaki sebagai ajang perkenalan, mencari jodoh, dan mempererat tali persaudaraan. Tarian ini dilakukan dengan posisi saling bergandengan tangan dan membentuk sebuah lingkaran. Peserta tarian ini tidak dibatasi oleh usia maupun golongan, siapa saja boleh turut serta dalam tarian lulo, kaya miskin, tua, muda boleh bahkan jika anda bukan suku Tolaki atau dari negara lain bisa bergabung dalam tarian ini, yang penting adalah bisa mengikuti gerakan tarian ini. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah posisi tangan saat bergandengan tangan, untuk pria posisi telapak tangan di bawah menopang tangan wanita. Posisi tangan ini merupakan simbolisasi dari kedudukan, peran, etika pria dan wanita dalam kehidupan.
Tarian ini mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupannya. Seperti filosofi masyarakat Tolaki yang diungkapkan dalam bentuk pepatah samaturu, medulu ronga mepokoaso, yang berarti masyarakat Tolaki dalam menjalani perannya masing-masing selalu bersatu, bekerja sama, saling tolong–menolong dan bantu-membantu.

Sejarah Kabupaten Kolaka

Rabu, 25 April 2012

Nama Resmi :Kabupaten Kolaka
Ibukota :Kolaka
Provinsi :Sulawesi Tenggara
Batas Wilayah:Utara: Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan 
Selatan: Kabupaten Buton, Kabupaten Konawe
Barat: Laut  Teluk Bone 
Timur: Kabupaten Kendari
Luas Wilayah:
± 10.310 Km Daratan
± 20.000 Km Perairan
Jumlah Penduduk:
263.677 Jiwa
Wilayah Administrasi:Kecamatan: 20, Desa: 132, Kelurahan: 45
Website:http://www.kolaka.go.id

Kode Wilayah : 74.01


Arti Logo


Lambang berbentuk perisai yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai segi lima yang melambangkan Pancasila.
Bahagian-bahagian lambang terdiri dari gambar-gambar :
1.      Bumi dan langit, melambangkan ruang lingkup hidup dan kehidupan manusia dan mahluk pada umumnya.
2.      2. Burung Elang Raksasa (Konggaha/Kongga Owose) yang melambangkan peristiwa sejarah dalam hidup dan kehidupan masyarakat di Negeri Mekongga pada zaman dahulu kala.
3. Tugu Pahlawan yang melambangkan kepribadian dan kehidupan penduduk Kabupaten Kolaka pada umumnya, yang menunjukkan kepahlawanan dan kepatriotannya dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 umumnya dan negri daerah serta rakyat kolaka pada khususnya dari penjajahan belanda di buktikan dengan peristiwa 19 November 1945, perjuangan mana di lanjutkan dengan perlawanan rakyat dengan pasukan-pasukan merah putihnya;
4.  Tanah bahagian atas yaitu darat dan laut serta tanah bagian bawah yang melambangkan keadaan geografis (Keadaan Alam) dari pada daerah kabupaten kolaka yang penuh dengan kekayaan yang potensial di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan/hasil laut, yang di rangkaikan dengan mata pencaharian pokok penduduk di bidang pertanian dan perikanan, bahkan mengandung potensial tambang (Nikel) sebagai salah satu sumber devisa dan merupakan identitas Kabupaten Daerah Kolaka dan Propinsi Daerah Sulawesi Tenggara di mata Nasional dan Internasional.
5.  Padi dan kapas adalah lambang kemakmuran yang secara nasional merupakan cita-cita dan tujuan rakyat dan daerah dalam wilayah repoblik Indonesia termasuk di dalamnya masyarakat kabupaten Kolaka;
6.   Rantai adalah melambangkan persatuan seluruh rakyat dan masyaakat dalam wilayah kabupaten Kolaka;
7.      roda (cakra) adalah lambang masa depan kabupaten daerah kabupaten Kolaka yang industrialis dan cukup meyakinkan;
8.   Bintang yang melayang adalah lambang ketuhanan yang Maha Esa yang kepadaNya jua yang akhirnya semua bentuk usaha dan pengabdian manusia dan makhluk pada umumnya di persembahkan.



Daftar nama kecamatan di wilayah kabupaten Kolaka:
Nomor Kecamatan Kabupaten Propinsi Keterangan
1. Baula Kolaka Sulawesi Tenggara -
2. Kolaka Kolaka Sulawesi Tenggara -
3. Ladongi Kolaka Sulawesi Tenggara -
4. Lalolae Kolaka Sulawesi Tenggara -
5. Lambandia Kolaka Sulawesi Tenggara -
6. Latambaga Kolaka Sulawesi Tenggara -
7. Mowewe Kolaka Sulawesi Tenggara -
8. Poli-Polia Kolaka Sulawesi Tenggara -
9. Pomalaa Kolaka Sulawesi Tenggara -
10. Samaturu Kolaka Sulawesi Tenggara -
11. Tanggetada Kolaka Sulawesi Tenggara -
12. Tinondo Kolaka Sulawesi Tenggara -
13. Tirawuta Kolaka Sulawesi Tenggara -
14. Uluiwoi Kolaka Sulawesi Tenggara -
15. Watumbangga Kolaka Sulawesi Tenggara -
16. Wolo Kolaka Sulawesi Tenggara -
17. Wundulako Kolaka Sulawesi Tenggara -
Sumber : Depdagri

Sipuppureng Lino

 Sipuppureng Lino
Syair : Gita
Lirik : Gita
Am : do
Kendari, 25/April/2012  Jam 16.oo wita
 
 
Mula jajinna Daeng
Joppa ale-ale
Mucuku' Cabberu
Rennu atikku
 
Tappa ulengnge Daeng
Sulo ri atikku
Lete ri parukkuseng
Tudang sipadduwa
 
Refrein :
Moni pale lopi 
Natappo bombang polesumange
Nyawaku pabbisena

Mario-rio Daeng
Sipuppureng lino
To siraga-raga
Lettu limbang rimaje

Produksi : Anoa Record
 

Keroncong ' Pantai Tenggara'

 Keroncong "Pantai Tenggara"
Syair : Gita
Lirik : Gita
G : do
Kendari, 24/April/2012  Jam 13.oo wita
Pantai Tenggara di Kota Kendari Sultra
 Dengarkan syair lagu
Di tepi pantai
Burung-burung camar
Titipkan rindu

Alun membawa biduk
Titipan negri
Kabut menghampiri
Di Tanah Konawe

Refrein : 
Di tepi Pantai Tenggara
Pelabuhan Cintaku
Hasrat hati memeluk rindu
Kan terbawa sampai nanti
(kembali keawal)

Produksi : Anoa Record

Pantai Tanjung Kayu Angin

Sabtu, 21 April 2012

Fenomena Tanjung Kayu Angin
Obyek wisata Tanjung Kayu Angin Terletak di Desa Sani-Sani Kecamatan Samaturu Kabupaten Kolaka.salah satu Obyek wisata laut yang sangat potensial untuk pengembangan dunia pariwisata di Kabupaten Kolaka,provinsi Sulawesi Tenggara.
Tanjung Kayu Angin sebuah obyek wisata yang dimiliki Kabupaten Kolaka selain pantai Tamborasi dan permadian Alam Ulunggolaka memiliki ciri khas lain,selain lokasinya yang berhadapan langsung dengan pulau padamarang dan pulau Lambasina,potensi karang yang masih hidup dibawah kedalaman tempat berkumpulnya berbagai jenis hewan laut.banyak pengunjung yang mendatangi tanjung kayu angin baik dari Kolaka maupun dari luar Kota Kolaka,namun sangat disayangkan karena akses untuk masuk ke lokasi wisata ini masih terbatas karena tidak adanya jalur darat yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.walaupun jalan masih sangat sulit tapi pantai Tanjung Angin sangat cocok untuk wisata akhir pekan bersama keluarga.Menunggu investor baik dalam negeri maupun mancanegara.

Pulau Padamarang

Pulau Padamarang yang Menawan
Panorama di Pulau Padamarang
Objek wisata Pulau Padamarang adalah salah satu pulau terbesar di kabupaten Kolaka,provinsi Sulawesi Tenggara. pulau ini terletak di wilayah Kabupaten Kolaka, provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Pulau ini terletak di utara Maniang dan di sebelah timur Teluk Bone.Letaknya di Kecamatan Pomalaa yang jaraknya ± 35 mil dari kota kolaka ke arah Barat dan dapat dicapai dengan perahu umum. Pantai pulau ini memamarangiliki taman laut yang indah. Cocok untuk snorkling, menyelam serta berenang.Areal Kepulauan Padamarang seluas kurang lebih 36.000 Ha. Menunggu kehadiran Anda.

Pantai Pitura

Pantai Pitura
Objek Wisata Pantai Pitura merupakan sebuah objek wisata yang berada di Kecamatan Watubangga,Kabupaten Kolaka,Provinsi Sulawesi Tenggara. berjarak sekitar 75 Km dari ibu kota Kabupaten Kolaka, merupakan sebuah obyek wisata pantai yang memiliki pemandangan laut yang sangat indah. Obyek wisata ini, tidak jauh dari poros jalan sehingga sangat mudah untuk dijangkau baik dengan kendaraan Roda empat maupun roda dua, tempat wisata pitura ini sangat menjanjikan sebab selain pemandangannya yang indah,di sekitar pantai juga dihiasi sejumlah tanaman bunga-bungaan dan pepohonan seperti pinus, sehingga memberi nuansa keteduhan.serta keasrian.Objek Wisata Indonesia Surga Dunia.

Sungai Tamborasi

Sungai Tamborasi merupakan sungai terpendek di dunia dengan panjang sekitar +20 meter dan lebar +15 meter,Sungai Tamborasi ini terletak +90 km dari kota Kolaka ke arah utara, tepatnya di Desa Tamborasi, Kecamatan Wolo. Untuk menuju Sungai Tamborasi pengunjung bisa menempuh jalan darat ataupun jalan laut +1-2 jam. Sepanjang jalan menuju Sungai Tamborasi, pengunjung juga bisa menikmati keindahan gunung yang mengandung batu marmer. Hulu sungai dimana tempat mata air keluar, mengalir langsung dan berhubungan dengan laut yang berpasir putih membuat Sungai Tamborasi kian mempesona dan sayang untuk dilewatkan keindahannya. Pesona lain dari sungai ini adalah keunikan jenis airnya, dimana Sungai Tamborasi mempunyai Dua macam sumber air, yakni air air dingin yang keluar dari mata airnya langsung, sedangkan air laut yang berbatasan langsung terasa hangat, sehingga pengunjung mempunyai dua pilihan untuk mandi, dengan air hangat atau air dingin.Wisata Indonesia Surga Dunia.

Tentang Anoa

Jumat, 20 April 2012

Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi)

 
Anoa adalah satwa endemik pulau Sulawesi, Indonesia. Anoa juga menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi Tenggara. Satwa langka dan dilindungi ini terdiri atas dua spesies (jenis) yaitu: anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Kedua satwa ini tinggal dalam hutan yang jarang dijamah manusia. Kedua spesies anoa tersebut hanya dapat ditemukan di Sulawesi, Indonesia. Diperkirakan saat ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulitnya, tanduknya dan dagingnya.
Baik Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) maupun Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) sejak tahun 1986 oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam binatang dengan status konservasi “Terancam Punah” (Endangered; EN) atau tiga tingkat di bawah status “Punah”.
Secara umum, anoa mempunyai warna kulit mirip kerbau, tanduknya lurus ke belakang serta meruncing dan agak memipih. Hidupnya berpindah-pindah tempat dan apabila menjumpai musuhnya anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa atau apabila terpaksa akan melawan dengan menggunakan tanduknya.
Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) sering disebut sebagai Kerbau kecil, karena Anoa memang mirip kerbau, tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira sebesar kambing. Spesies bernama latin Bubalus depressicornis ini disebut sebagai Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines. Anoa yang menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi tenggara ini lebih sulit ditemukan dibandingkan anoa pegunungan.
 
 Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis)

                                                              
Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) mempunyai ukuran tubuh yang relatif lebih gemuk dibandingkan saudara dekatnya anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Panjang tubuhnya sekitar 150 cm dengan tinggi sekitar 85 cm. Tanduk anoa dataran rendah panjangnya 40 cm. Sedangkan berat tubuh anoa dataran rendah mencapai 300 kg.
Anoa dataran rendah dapat hidup hingga mencapai usia 30 tahun yang matang secara seksual pada umur 2-3 tahun. Anoa betina melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan. Masa kehamilannya sendiri sekitar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.
Anoa dataran rendah hidup dihabitat mulai dari hutan pantai sampai dengan hutan dataran tinggi dengan ketinggian 1000 mdpl. Anoa menyukai daerah hutan ditepi sungai atau danau mengingat satwa langka yang dilindungi ini selain membutuhkan air untuk minum juga gemar berendam ketika sinar matahari menyengat.
Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) sering disebut juga sebagai Mountain Anoa, Anoa de montagne, Anoa de Quarle, Berganoa, dan Anoa de montaƱa. Dalam bahasa latin anoa pegunungan disebut Bubalus quarlesi.
Anoa pegunungan mempunyai ukuran tubuh yang lebih ramping dibandingkan anoa datarn rendah. Panjang tubuhnya sekitar 122-153 cm dengan tinggi sekitar 75 cm. Panjang tanduk anoa pegunungan sekitar 27 cm dengan berat tubuh dewasa sekitar 150 kg. Anoa pegunungan berusia antara 20-25 tahun yang matang secara seksual saat berusia 2-3 tahun. Seperti anoa dataran rendah, anoa ini hanya melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan yang berkisar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia dewasa meskipun telah disapih saat umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia.
Anoa pegunungan berhabitat di hutan dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 3000 mdpl meskipun terkadang anoa jenis ini terlihat turun ke pantai untuk mencari garam mineral yang diperlukan dalam proses metabolismenya.
Anoa pegunungan cenderung lebih aktif pada pagi hari, dan beristirahat saat tengah hari. Anoa sering berlindung di bawah pohon-pohon besar, di bawah batu menjorok, dan dalam ruang di bawah akar pohon atau berkubang di lumpur dan kolam. Tanduk anoa digunakan untuk menyibak semak-semak atau menggali tanah Benjolan permukaan depan tanduk digunakan untuk menunjukkan dominasi, sedangkan pada saat perkelahian, bagian ujung yang tajam menusuk ke atas digunakan dalam upaya untuk melukai lawan. Ketika bersemangat, anoa pegunungan mengeluarkan suara “moo”.
Populasi dan Konservasi. Anoa semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) yang menjadi maskot provinsi Sulawesi Tenggara tidak pernah terlihat lagi. Karena itu sejak tahun 1986, IUCN Redlist memasukkan kedua jenis anoa ini dalam status konservasi “endangered” (Terancam Punah).
Selain itu CITES juga memasukkan kedua satwa langka ini dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diperjual belikan. Pemerintah Indonesia juga memasukkan anoa sebagai salah satu satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Beberapa daerah yang masih terdapat satwa langka yang dilindungi ini antaranya adalah Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Lore-Lindu dan TN Rawa Aopa Watumohai (beberapa pihak menduga sudah punah).
Anoa sebenarnya tida mempunyai musuh (predator) alami. Ancaman kepunahan satwa endemik Sulawesi ini lebih disebabkan oleh deforestasi hutan (pembukaan lahan pertanian dan pemukiman) dan perburuan yang dilakukan manusia untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya.
Pada tahun 2000, masyarakat Kabupaten Buton dan Konawe Selatan dibantu pihak BKSDA pernah mencoba untuk membuka penangkaran anoa. Tetapi usaha ini akhirnya gagal lantaran perilaku anoa yang cenderung tertutup dan mudah merasa terganggu oleh kehadiran manusia sehingga dari beberapa spesies yang ditangkarkan tidak satupun yang berhasil dikawinkan.
Tahun 2010 ini, Taman Nasional Lore-Lindu akan mencoba melakukan penangkaran satwa langka yang dilindungi ini. Semoga niat baik ini dapat terlaksana sehingga anoa datarn rendah (Bubalus depressicornis) dan Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dapat lestari dan menjadi kebanggan seluruh bangsa Indonesia seperti halnya Panser Anoa buatan Pindad.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia, Ordo: Artiodactyla, Famili: Bovidae, Upafamili: Bovinae, Genus: Bubalus, Spesies: Bubalus quarlesi, Bubalus depressicornis. Nama binomial: Bubalus quarlesi (Ouwens, 1910). Bubalus depressicornis (H. Smith, 1827).
Sumber : wikipedia

Lagu Halu Oleo

HALU OLEO

Syair : Gita
Lirik : Gita
Kendari, 21/April/2012  Jam 13.oo wita

Halu Oleo
 
Tanah kita yang tercinta
Tanah melati
Berkembang putih warna
Halu Oleo
Tanah penuh bunga-bunga
Harum baunya
Serbak kemana-mana

Alangkah indahnya
Seperti hari ini
Payahku hilang
Apa dicari lagi



Catatan Lagu ini terinspirasi pada :
Kata “Haluoleo” yang berarti delapan hari, diambil dari nama salah seorang raja pada Kerajaan Konawe yang hidup sekitar abad tujuh belas. Haluoleo selain dikenal sebagai pemimpin yang bijak, diyakini pula sebagai ksatria yang tak kenal menyerah dan gigih membela tumpah darahnya. Secara harfiah Haluoleo berarti delapan hari dalam bahasa Tolaki – bahasa penduduk asli Kerajaan Konawe yang mendiami Kendari. 

Salam Sukses 
Produksi : Anoa Record

Menu Utama

Visitor

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Wisata Anoa

 
Copyright © 2012. Wisata Anoa - All Rights Reserved
INSYA ALLAH IYANAE RI KOLAKA - WISATA ANOA Desain Teluk Bone
Login - Administrator
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...